Minggu, 05 Februari 2012

NASRANI (Definisi dan Sejarah)



N A S R A N I (נצרים היהדות)
Definisi dan Sejarah


= = =

Josephus, sejarahwan Yahudi pada abad pertama, menulis ada tiga sekte utama di dalam Yudaisme: Farisi, Saduki dan Esseni (The Wars of The Jews. Flavius Josephus. 100 A.D.). Epiphanius, sejarahwan Gereja pada abad keempat, mencatat ada tujuh sekte: Saduki, Ahli Taurat, Farisi, Hemerobaptis, Ossaean, Nasaraean dan Herodian (Panarion 1:19. Epiphanius). Para pengikut Yesus yang mula-mula juga dikenal sebagai sebuah sekte - yang disebut sebagai sekte Nasrani (Yunani: Nazoraios). Hegesippus, penganut Nasrani dari abad kedua, menulis selain mereka, ada tujuh sekte lain: Esseni, Galilean, Hemerobaptis, Masbothaean, Samaria, Saduki dan Farisi (Historia Ecclesia IV,22. Eusebius. 325 A.D.). Tulisan ini hendak mengadakan penjelasan atas kekeliruan dalam mengidentifikasikan sekte Nasrani.

= = =

Definisi
Kekeliruan dalam mengidentifikasikan sekte Nasrani disebabkan antara lain oleh banyaknya variasi nama yang beda-beda tipis seperti Nazarenus, Nazoraios, Nazaroi, Nazoraean, Nasaraean, Nazarites, Notzrim, N’tzarim, dan lain-lain. Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita samakan dahulu definisi sekte Nasrani:

“Sekte Nasrani adalah sebuah sekte dalam agama Yahudi yang hidup menuruti apa yang tertulis di dalam hukum Taurat dan percaya bahwa keselamatan datang melalui Yeshua Ha-Mashiach (Nama asli Yesus Kristus dalam bahasa aslinya, Ibrani-Aramaik), Anak Elohim (Torah yang hidup), lahir dari perawan Miryam, mati dan bangkit, naik ke surga, duduk di sebelah kanan Elohim Bapa, dan datang kemudian untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.”


Tentang sekte ini, para Bapa Gereja memberikan kesaksian sebagai berikut:
  • "...yang menerima Kristus sedemikian rupa namun tanpa meninggalkan Hukum yang lama."(St. Yerome. On Isaiah 8:14)
  • “Pengikut sekte ini dikenal luas sebagai kaum Nasrani, mereka percaya kepada Kristus, anak Elohim, lahir dari perawan Maria, dan mereka berkata bahwa Ia yang menderita di bawah Pontius Pilatus, dan bangkit lagi, adalah orang yang sama seperti yang kita percayai.” (Surat Yerome kepada Agustinus)
  • "Mereka tidak mempunyai pendapat yang berbeda, namun melakukan semua hal tepat seperti apa yang diperintahkan dalam Taurat, menurut tata cara Yahudi – kecuali kepercayaan mereka terhadap Mesias…" (Epiphanius. Panarion 29)

Sekte Nasrani tersusun atas kebanyakan orang Yahudi (Kisah Para Rasul 21:20 menerangkan bahwa jumlah anggota sekte ini mencapai puluhan ribu orang. Kata Yunani yang digunakan adalah miruas, yang bisa pula diterjemahkan “tidak terhingga banyaknya”), kemudian orang-orang bukan Yahudi yang menganut agama Yahudi (Yunani: Proselutos) (Kisah Para Rasul 2:11), dan mungkin pula para pengikut Yohanes Pembaptis. Mereka sangat rajin (Zealous) memelihara Taurat (Kisah Para Rasul 20:21) dan terus beribadah seperti orang Yahudi lainnya (Kisah Para Rasul 2:45). Kepemimpinan sekte ini secara berturut-turut dipegang oleh orang-orang yang berhubungan darah dengan Yesus, yang pertama adalah Yakobus, saudara Yesus, kedua Simeon anak Klopas, sepupu Yesus, ketiga Yustus, yang juga adalah sepupu Yesus, dan seterusnya (Historia Ecclesia IV,5. Eusebius. 325 A.D.). Paulus disebut-sebut juga sebagai salah seorang tokoh dari sekte ini (Kisah Para Rasul 24:5).

= = =


Asal-usul sebutan Nasrani
Sebutan Nasrani (Ibrani: Netzarim) berasal dari kalangan Yahudi untuk menyebut para pengikut Yesus. Kata ini muncul dua kali dalam Perjanjian baru (Kisah Para Rasul 24:5, 14) dan juga di dalam Talmud (Shabbath 116a, Gittin 57a, Avodah Zarah 48a). Dari mana sebutan ini berasal masih menjadi bahan perdebatan oleh para sarjana. Sebagian sarjana berpendapat bahwa nama tersebut berasal dari kata Ibrani Netzer (tunas) yang dikaitkan dengan Yesaya 11:1 – bahwa Yesus adalah Sang Tunas. Tetapi teori ini tidak masuk akal sama sekali jika mengingat sebutan Nasrani berasal dari kalangan orang Yahudi yang tidak percaya. Jika kata Nasrani benar berasal dari kata Netzer maka sama artinya mereka mengakui bahwa Yesus adalah Mesias. Walaupun demikian Epiphanius mencatat bahwa pengikut Yesus yang mula-mula juga disebut dengan sebutan IESSAIOI – Tunas Isai (Panarion 29 1, 3-9; 4,9). Beberapa sarjana lain sebaliknya lebih meyakini bahwa kata Nasrani berasal dari kata Ibrani Nazir, yaitu sebutan untuk orang yang menyerahkan hidupnya untuk Tuhan seperti Samson (Hakim-hakim 13:5) dan Samuel (1 Raja-raja 1:11). Menurut keterangan Hegesippus yang dikutip oleh Eusebius, Yakobus pemimpin sekte Nasrani hidup sebagai seorang nazir, tidak minum anggur, tidak makan daging dan tidak mencukur rambut (Historia Ecclesia II,xxiii). Praktek menahirkan diri nampaknya dilakukan oleh para pengikut Yesus mula-mula seperti yang terlihat dalam Kisah Para Rasul 21:23. Nazar yang dilakukan oleh Paulus di dalam Kisah Para Rasul 18:18 boleh jadi merupakan praktek yang serupa. Satu lagi teori mengatakan bahwa kata Nasrani berasal dari kata Ibrani Natzar yang artinya “menaati, memelihara, menjaga”. Kata ini dengan mudah bisa dihubungkan dengan istilah Yahudi Notsray haTorah yang artinya “penjaga atau pemelihara Taurat”. Istilah ini memang cocok sekali dengan cara hidup para pengikut Yesus yang mula-mula tetapi akan menjadi paradoks mengingat siapa pemberi nama Nasrani itu. Jika orang-orang Yahudi Farisi memberikan nama Nasrani dengan pengertian bahwa pengikut Yesus adalah “penjaga Taurat”, lalu apa peranan yang tersisa untuk mereka sendiri? Mungkin nama Nasrani diambil dari kota kelahiran Yesus, Nazaret (Sebuah nama yang salah. Pada zaman Eusebius dan St. Yerome, kota kelahiran Yesus ini disebut Nazara, yang nampaknya merupakan nama yang benar sebab di dalam manuskrip Perjanjian Baru kita menjumpai kata seperti Nazarenos atau Nazoraios, tetapi tidak pernah Nazaretaios) adalah jawaban yang terbaik.

Istilah lain yang diberikan kepada para pengikut Yesus yang mula-mula adalah Evyonim (orang miskin) diambil dari khotbah Yesus: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Elohim, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3). Hal ini juga tercermin dalam kehidupan para pengikut Yesus yang mula-mula yang sangat bersahaja (Kisah Para Rasul 2:45, 2 Korintus 8:9). Satu istilah yang tidak kalah pentingnya adalah kata Kristen (Kisah Para Rasul 11:26) yang sekarang digunakan secara luas untuk menyebut barangsiapa yang percaya kepada Yesus Kristus – Katolik, Protestan, Maronit, Jacobite, Koptik, Mormon, dan seterusnya. Istilah ini muncul di kalangan orang percaya bukan Yahudi di Antiokhia, sebuah kota koloni Yunani di luar Palestina, beberapa dekade setelah kenaikan Yesus. Secara literal, Kristen artinya “pengikut Mesias” (Mesianis), sehingga sekte Nasrani boleh juga disebut sebagai Yahudi Mesianis – untuk membedakannya dengan Yahudi Rabbinis (agama Yahudi modern).

Menarik untuk disimak bahwa para pengikut Yesus yang mula-mula tidak menyebut diri mereka Nasrani, Evyonim, atau Kristen. Mereka lebih memilih menyebut diri mereka pengikut “JALAN TUHAN” (Kisah Para Rasul 9:2, 13:10, 18:25, 19:9, 19:23, 22:4-5, 24:14, 24:22) atau "Jalan Elohim" (Matius 22:16, Lukas 20:21, Kisah Para Rasul 18:26) atau "Jalan Kebenaran" (2 Petrus 2:2,21).

Figur terpenting dalam sekte Nasrani adalah Yakobus yang diberi gelar oleh masyarakat, Ha Tzaddik yang artinya Orang Benar. Sepeninggal Yesus, kepemimpinan diserahkan kepada saudara-Nya Yakobus sebagai pewaris tahta Daud yang sah. Hegesippus dalam bukunya Memoir, yang dikutip oleh Eusebius, menceritakan:

“Yakobus, saudara Tuhan Yesus, meneruskan kepemimpinan Gereja bersama-sama dengan para rasul. Ia telah dipanggil dengan sebutan Tzaddik oleh semua orang sejak zaman Kristus hingga hari ini, sebab banyak orang yang bernama Yakobus. Ia kudus sejak dalam kandungan ibunya, ia tidak minum anggur atau minuman keras, dan ia tidak makan daging. Ia tidak mencukur rambutnya, tidak memakai minyak urapan, dan tidak mandi. Ia seorang diri diperbolehkan memasuki ruang kudus [dalam Bait Elohim], sebab ia tidak memakai wul selain kain linen. Dan menjadi kebiasaannya untuk masuk seorang diri ke dalam Bait Elohim, dan sering kali dijumpai ia berlutut berdoa memohon pengampunan atas bangsanya, hingga lututnya menjadi sekeras lutut unta, saking terlalu lamanya ia berdoa menyembah Tuhan dan memohon pengampunan atas bangsanya. Karena kebajikannya yang luar biasa, ia digelari ha-Tzaddik dan Oblias yang jelas artinya dalam bahasa Yunani: Pelindung Bangsa dan Keadilan, sesuai seperti apa yang dinubuatkan oleh para nabi mengenainya.” (Historia Ecclesia 2:23:5-7)

Dari penjelasan Hegesippus di atas, kita memperoleh gambaran bahwa Yakobus hidup sebagai seorang nazir dan mempunyai kebiasaan untuk berdoa di dalam ruang kudus [devir] Bait Elohim. Kesalehan Yakobus di dalam memelihara Taurat (bd. Kisah Para Rasul 21:20) ini diakui oleh seluruh masyarakat Yahudi, bahkan oleh para pemuka agama Yahudi saat itu sehingga ia diperbolehkan seorang diri memasuki ruang kudus [devir] Bait Elohim – dimana kita tahu hanya Imam Besar yang diperbolehkan untuk itu. Hal ini juga menjadi contoh nyata bagaimana seorang Nasrani di masa itu tidak memandang bahwa Yesus telah mendirikan agama baru yang asing dan terpisah dari komunitas besar Yahudi.

= = =

Orang Nasrani beribadah bersama-sama orang Yahudi lainnya
Sampai akhir abad pertama, sekte Nasrani masih beribadah bersama-sama dengan orang Yahudi lainnya. Hal ini bisa kita jumpai dari aneka sumber, salah satunya adalah Toldoth Yeshu, sebuah karya sastra derogatori dari kalangan Yahudi pada abad kelima.
"Sepeninggal Dia [Yeshua] murid-muridnya ada bersama-sama dengan orang Yahudi dan Bani Israel di sinagoga-sinagoga, bersembahyang dan berpuasa di tempat yang sama. Tetapi ada perbedaan pendapat antara mereka dan orang Yahudi mengenai Mesias." (Toldot Yeshu)

Bahkan sampai abad kelima, di belahan timur, orang Nasrani masih bisa dijumpai beribadah bersama-sama orang Yahudi. Hal ini terungkap dalam surat St. Yerome kepada St. Agustinus pada tahun 404.
"…Pada zaman kita ada sebuah sekte di kalangan orang Yahudi di seluruh sinagogasinagoga di Timur, yang disebut Minim, dan sekarang dicap bidah pula oleh orang Farisi. Pengikut sekte ini dikenal luas sebagai kaum Nasrani, mereka percaya kepada Kristus, anak Elohim, lahir dari perawan Maria, dan mereka berkata bahwa Ia yang menderita di bawah Pontius Pilatus, dan bangkit lagi, adalah orang yang sama seperti yang kita percayai. Tetapi sementara mereka ingin menjadi Yahudi dan Kristen sekaligus, mereka akhirnya tidak tergolong ke dalam salah satu pun…" (Surat Yerome kepada Agustinus)

= = =

Sekte Nasrani diusir dari Yudaisme
Pada tahun 70, bangsa Romawi datang mengepung Yerusalem. Ketika itulah orang-orang Nasrani kemudian teringat pesan Mesias: “Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat.” (Lukas 21:20).
Mereka segera meninggalkan Yerusalem menuju daerah pengunungan di sekitar kota Pella di seberang Yordan. Tindakan ini dianggap sebagai suatu tindakan yang tidak patriotik oleh kalangan Yahudi lainnya. Inilah bibit awal yang menyebabkan penolakan terhadap orang-orang Nasrani. Setelah Bait Elohim dirubuhkan, para rabbi-rabbi Yahudi Farisi berkumpul di Yavneh untuk memutuskan masa depan agama mereka. Mereka antara lain menyusun Misnah dan menetapkan kanonisasi Alkitab. Pusat kerohanian di Yavneh inilah yang kelak menjadi fondasi dari agama Yahudi modern (Yahudi Rabbinis). Pada tahun 90, Samuel ha-Katan ditugaskan untuk menambahkan ucapan doa yang kemudian di kenal sebagai Birkat haMinim ke dalam doa orang Yahudi (Berachot 29b). Dalam Birkat haMinim masa kini memang tidak terdapat lagi kata Nasrani di dalamnya tetapi sebuah salinan tua yang ditemukan di Genizah, Kairo berbunyi:

“Biarlah tidak ada pengharapan bagi para pemberontak, dan semoga kerajaan yang congkak segera dirubuhkan pada hari ini, dan orang Nasrani dan orang Minim menghilang dan dilenyapkan dari buku kehidupan. Terpujilah Engkau Tuhan yang merendahkan orang-orang congkak.”
Yang dimaksud dengan para pemberontak disini adalah orang Saduki dan para penganut sekte Yahudi lain (termasuk Nasrani) yang tidak sejalan dengan ajaran orang Farisi. Istilah yang kemudian diberikan kepada semua orang yang “tidak sejalan” ini adalah Minim. Sedangkan kerajaan yang dimaksud tentu saja adalah kerajaan Romawi pada masa itu. Tetapi penekanan justru diberikan dengan menyebut langsung kata Nasrani. Sejak itu sulit bagi orang-orang Nasrani untuk berpartisipasi di dalam sinagoga.

Ephiphanius pada abad keempat menulis:
“Orang Yahudi tidak saja membenci mereka; bahkan berdiri di pagi hari, siang hari dan malam hari, tiga kali sehari mengucapkan doa di sinagoga-sinagoga, mengutuki dan melaknati mereka. Tiga kali sehari mereka berkata: “Tuhan mengutuki orang Nasrani.” Sebab orang Yahudi menyimpan kebencian terhadap mereka, jika boleh,walaupun mereka juga adalah Yahudi, mereka mengakui bahwa Yesus adalah Mesias…”(Panarion 29)

Atas sikap tidak bersahabat ini, kemudian timbul rasa kebencian terhadap orang Yahudi di kalangan pengikut Yesus yang bukan Yahudi. Supaya diketahui, sejak dahulu bangsa Yahudi menjadi obyek kebencian dari semua bangsa-bangsa di dunia oleh karena mereka berbeda baik dalam kepercayaan dan gaya hidup. Pada abad pertama masehi telah terbentuk suatu opini umum di kalangan penduduk Romawi bahwa bangsa Yahudi adalah sebuah bangsa yang berasal-usul amat memalukan, sebuah bangsa berpenyakit kusta yang diusir keluar dari Mesir pada zaman Musa. Hal ini tercermin antara lain lewat tulisan para tokoh-tokoh Romawi seperti Apion, Poscidonios dan Molon. Atas kejadian ini, rasa kebencian terhadap orang Yahudi yang diwariskan oleh pengikut-pengikut Yesus yang bukan Yahudi serasa menemukan tempatnya kembali.

Dan penyesatan pun dimulai…
Hegesippus seperti yang dikutip oleh Eusebius mencatat bahwa setelah kematian Yakobus, Simeon anak Klopas ditunjuk untuk menjadi pemimpin berikutnya. Hegesippus ini adalah seorang Yahudi Nasrani yang hidup tepat setelah generasi para rasul. Hegesippus menegaskan bahwa sampai hari itu, jemaat pengikut Yesus masih belum dicemari oleh ajaran-ajaran yang menyesatkan. Selanjutnya ia menulis:
“Tetapi Thebuthis, karena ia tidak dipilih menjadi pemimpin, mulai menyesatkan jemaat. Darinya berkembang tujuh sekte di tengah orang banyak [masing-masing dinamai menurut pemimpin mereka], seperti Simonian, Kleobian, Dosithean, Goratheni, Masbothaean. Dari mereka ini muncul kaum Menandrianis, Marcionis, Karpokratian, Valentinian, Basilidian, dan Saturnilian. Masing-masing secara terpisah mengajarkan ajaran mereka sendiri. Dari mereka muncul Mesias palsu, nabi palsu, rasul palsu yang memecah belah jemaat dengan ajaran sesat melawan Tuhan dan melawan Mesias-Nya.”(Historia Ecclesia IV, 22)

Inilah yang dimaksud oleh Petrus di dalam 2 Petrus 3:15-17 ketika ia mengingatkan kita akan bahaya pemutar-balikkan ajaran Paulus oleh orang-orang yang tidak mengenal Hukum [yaitu Taurat = orang bukan Yahudi). Ketika jumlah orang-orang non Yahudi mulai melebihi jumlah orang Yahudi di dalam tubuh sekte Nasrani, mereka mulai menyesuaikan kepercayaan baru mereka itu dengan kepercayaan lama mereka. Dan ternyata kebencian mereka terhadap orang Yahudi belum juga hilang meski sekarang mereka telah beriman kepada Mesias-nya orang Yahudi. Mereka, sama seperti kakek dan ayah mereka, memandang hina agama dan adat-istiadat Yahudi. Seperti apa yang ditulis oleh St. Ignatius pada tahun 98 di bawah ini:

"Tidak masuk akal berbicara tentang Yesus Kristus dengan lidah [Yahudi] dan menumbuhkan harapan dalam pemikiran kepercayaan Yahudi yang sekarang sudah berakhir." (Surat untuk jemaat Magnesia)

Masih dalam buku yang sama, Hegesippus mencatat kisah perjalanannya ke Korintus dan Roma (c.160). Di dalam perjalanannya itu ia bertemu dengan banyak uskup-uskup dan ia menjumpai kesamaan doktrin dari mereka semua. Ia dalam kesempatan yang sama mengatakan: “Dan jemaat di Korintus bertahan dalam kebenaran firman hingga Primus menjadi uskup di Korintus….setiap kota menuruti ketetapan-ketetapan Hukum [Taurat], para nabi dan Tuhan [Yesus].”

Dari keterangan tersebut kita boleh mengambil kesimpulan, meski dengan ekstra hati-hati, bahwa sampai paruh abad kedua para pengikut Yesus masih memelihara hukum Taurat dan mempunyai kepercayaan yang seragam – meski di luar Yudea mulai bermunculan intrik-intrik anti Yahudi. Tetapi perpisahan antara kubu Kristen (mayoritas non Yahudi, di luar Yudea) dengan Nasrani (mayoritas Yahudi, di Yudea) sudah tidak terelakkan lagi. Pada tahun 135 Simon Bar Koseba dan pengikutnya mengangkat senjata melawan Romawi setelah Kaisar Hadrian berencana untuk membangun kuil Yupiter di atas reruntuhan Bait Elohim. Pada awalnya pemberontakan Bar Koseba ini memperoleh kemenangan tetapi akhirnya seluruh bangsa Yahudi harus menanggung kekalahan yang teramat besar. Setelah Bar Koseba terbunuh dan peperangan pun usai, seluruh orang Yahudi diusir dan untuk selanjutnya dilarang memasuki Yerusalem dalam radius 150 mil. Aturan ini berlaku pula bagi kaum Nasrani karena orang Romawi juga memandang mereka tidak lebih sebagai Yahudi. Rencana Hadrian berlanjut, sebuah kota baru berdiri di atas reruntuhan Yerusalem dan diberi nama Aelia Kapitolina. Hadrian kemudian mendatangkan orang-orang Yunani dan Suriah untuk mengisi kota tersebut. Tidak dapat disangkal, beberapa di antara orang-orang itu adalah orang Kristen (Historia Ecclesia IV,6. Eusebius melaporkan adanya sebuah gereja non-Yahudi di masa itu). Keadaan ini memberikan peluang bagi kubu Kristen yang tidak mempedulikan keyahudian kepercayaan mereka – untuk bersuara lebih besar dalam urusan-urusan komunitas dan penafsiran Alkitab. Dan kepemimpinan sekte Nasrani yang turun temurun

Berbarengan dengan itu masuk pula paham Gnostisme. Ensiklopedia Katholik menjelaskannya dengan definisi singkat: “the doctrine of salvation by knowledge” (ajaran keselamatan lewat pengetahuan). Paham Gnostisme ini mengajarkan bahwa keselamatan jiwa diperoleh dengan cara menyingkap misteri alam dan mistis. Tidak ada satu pun ahli yang sepakat menyatakan tempat kelahiran paham ini tetapi secara umum mereka sepakat bahwa Gnostisme berasal dari dunia Timur. Gnostisme tidak mempunyai kepemimpinan sentral atau organisasi teratur layaknya sebuah agama sehingga Gnostisme boleh dikatakan merupakan sekumpulan besar paham-paham pantheistik-idealistik yang beraneka-ragam. Gnostisme juga tidak terikat pada suatu agama sehingga memungkinkan paham ini untuk bersinkretis dengan agama mana pun. Oleh sebab itu tidak heran bila agama Yahudi – termasuk sekte Nasrani di dalamnya – dan juga Kristen tidak luput dari serbuan paham ini. Tokoh-tokoh Gnostis yang masuk antara lain Kerinthus dan Elkhasai (tentang mereka ini dapat anda baca lebih jelas di dalam Ensiklopedia Katholik).

Pada zaman itu kota Alexandria di Mesir menjadi salah satu pusat ajaran Gnostis. Banyak dari para Bapa Gereja lahir dan dibesarkan di kota ini, antara lain Barnabas (bukan Barnabas teman seperjalanan Paulus), Yustinus Martir, Klemen (bukan Klemen dalam Perjanjian Baru) dan Origen. Mereka berlatar-belakang dari keluarga penyembah berhala, entah itu ayah mereka atau kakek mereka. Mereka inilah yang dimaksud oleh Petrus sebagai orang-orang yang tidak mengenal Hukum Taurat. Untuk orang sekelas Petrus saja – yang menghabiskan waktu tiga tahun bersama-sama Yesus, tulisan-tulisan Paulus diakui sukar untuk dipahami – apalagi untuk mereka yang tidak pernah mengenal Hukum Taurat. Karena ketidak-pedulian akan keyahudian iman mereka – ditambah dengan rasa kebencian terhadap orang Yahudi yang lazim di masa itu, mereka kemudian menghasilkan ajaran-ajaran yang sama sekali berlawanan dengan iman Yahudi. Barnabas dikenal dengan tulisan-tulisan anti Sabat dan anti Taurat-nya. Yustinus percaya bahwa Taurat diberikan kepada Israel sebagai hukuman dari Elohim. Klemen percaya bahwa Kristen adalah satu-satunya Gnostisme yang benar. Sedangkan Origen berpendapat bahwa Taurat adalah aplikasi hukum literal yang seharusnya ditinggalkan supaya kita kembali kepada hukum rohani Elohim yang benar. Origen keliru sebab Taurat adalah bersifat rohani seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 7:14. Mereka keliru memahami Paulus dengan memperkenalkan konsep anti Taurat, mengajarkan bahwa hidup di dalam Taurat berlawanan dengan hidup di dalam kasih karunia. Dan hal yang paling mengerikan adalah mereka menyalah-pahami konsep tentang Elohim orang Yahudi dengan menjadikannya sebagai Tuhan Tritunggal, sebuah konsep yang tidak pernah dikenal sebelumnya dalam

= = =

Nasrani VS Ebionisme
Di kemudian hari, ketika kekristenan berkembang di abad ketiga dan keempat, dan secara perlahan-lahan kehilangan akar Yahudinya, para tokoh Gereja di masa itu menyebutkan ada dua buah kelompok: Nasrani dan Ebion (transliterasi dari kata evyonim). Dari keterangan mereka, jika kita seksama membacanya jelas sekali bahwa keduanya merupakan kelompok yang berbeda. Perbedaan di antara keduanya adalah kelompok Ebion menolak Paulus dan surat-suratnya, menolak keTuhanan Yesus, Yesus adalah manusia biasa, anak dari Yusuf dan Maria, menolak ritual korban persembahan, tidak makan daging dan menggunakan hanya Injil Ibrani (Against The Heresies. Irenaeus. 140-203; Against All Heresies. Hippolytus. 170-235; Historia Ecclesia. Eusebius 325; Surat kepada Agustinus. Yerome. 404.). Menurut Hippolytus, pandangan mereka terhadap Kristus serupa dengan apa yang diajarkan oleh Kerinthus dan Karpokrates. Kelompok Ebion ini meninggalkan warisan berupa tulisan yang kemudian dikenal sebagai Pseudo-Klemen. Sedangkan kelompok Nasrani dideskripsikan dengan positif sebagai kelompok yang menerima Paulus dan percaya akan ketuhanan Yesus, termasuk kelahiran-Nya dari perawan Maria. Kelompok Nasrani ini adalah sekte biblikal yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul.

Banyak orang, termasuk para sarjana sekelas Hyam Maccobi sekalipun, tidak mampu membedakan antara kedua kelompok ini. Bahkan ada dari mereka yang memandang bahwa Ebionisme adalah ajaran Yesus yang asli. Padahal Ebionisme tidak sama dengan kepercayaan Nasrani yang tercantum di dalam Kisah Para Rasul. Kelompok Ebion ini bisa dilacak asal-usulnya ketika terjadi penyerbuan bangsa Romawi ke Yerusalem pada tahun 70. Tahun tersebut adalah tahun yang teramat penting dalam sejarah Nasrani. Ketika Simeon, pengganti Yakobus, memimpin kaum Nasrani mengungsi ke Pella, Thebuthis memimpin sebagian lainnya untuk memisahkan diri dari kelompok Simeon. Kelompok Thebuthis ini, seperti yang diceritakan oleh Hegesippus, kemudian menjadi sangat rentan terhadap ajaran-ajaran sesat. Dan dari sinilah Ebionisme kemudian timbul.

Tentang Sekte Nasoræan
Nasoræan adalah sebuah sekte Gnostis yang tumbuh sebelum era kekristenan di Mesopotamia. Sekte ini merupakan satu-satunya sekte Gnostis yang masih bertahan hingga hari ini dengan jumlah penganut sekitar 1500 orang yang tinggal di Shat-el-Arab, dekat Teluk Persia. Bagian ini sengaja ditambahkan oleh penulis karena beberapa waktu yang lalu seorang penceramah Kristen telah keliru menghubungkan sekte biblikal Nasrani (Kisah Para Rasul 24:5, 14) dengan sekte Nasoræan tersebut.

Nama Nasoræan merupakan hasil transliterasi dari nama yang mereka gunakan di dalam kitab suci mereka naswraya atau nasurai yang juga amat mirip dengan kata Arab (tunggal: Nasrani; jamak: Nasara) untuk Kristen. Tetapi nama yang lebih sering digunakan adalah Mandæan yang berarti “gnostis”. Nama lain yang juga ditemukan di dalam kitab suci mereka adalah Sabian yang artinya membaptis. Nama ini terdapat pula di dalam Al-Qur’an (Surah Al-Baqarah 62) yang terjemahannya adalah sebagai berikut (Al Quran Digital 2.0) :

Pahala orang yang beriman
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلنَّصَـٰرَىٰ وَٱلصَّـٰبِـِٔينَ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡہِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ (سُوۡرَةُ البَقَرَة : ٦٢)

Qs. Al Baqarah 62: Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[56], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[57], hari kemudian dan beramal saleh[58], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

[56]. Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari'at Nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa.
[57]. Orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.
[58]. Ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama Islam, baik yang berhubungan dengan agama atau tidak.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Salman bertanya kepada Nabi SAW tentang penganut agama yang pernah ia anut bersama mereka. Ia terangkan cara shalatnya dan ibadahnya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 62) sebagai penegasan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan berbuat shaleh akan mendapat pahala dari Allah SWT.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dan al-Adni dalam musnadnya dari Ibnu Abi Najih yang bersumber dari Mujahid.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika Salman menceritakan kepada Rasulullah kisah teman-temannya, maka Nabi SAW bersabda: "Mereka di neraka." Salman berkata: "Seolah-olah gelap gulitalah bumi bagiku. Akan tetapi setelah turun ayat ini (S. 2: 62) seolah-olah terang-benderang dunia bagiku."
(Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari Abdullah bin Katsir yang bersumber dari Mujahid.)


Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S. 2: 62) turun tentang teman-teman Salman al-Farisi.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari As-Suddi.)

= = =

Para penganut sekte Nasoræan menjalankan baptisan harian sehingga ada orang yang menyamakan sekte ini dengan sekte Yahudi Hemerobaptis (secara literal artinya “baptisan harian”). Sekte ini tidak menempatkan Yesus sebagai seorang nabi tertinggi melainkan Yohanes Pembaptis. Yesus lebih dipandang sebagai guru yang “memberontak” sedangkan Yohanes adalah guru yang sejati. Pandangan ini terdapat dalam salah satu kitab suci mereka Drasha d Yahya (Kitab Yohanes Pembaptis). Ketika ajaran sekte ini dikenal di Eropa, mereka dianggap sebagai keturunan murid-murid Yohanes Pembaptis (Kisah Para Rasul 19:1-3) sehingga di Eropa sekte ini dikenal juga sebagai “Kristen Baptisan Yohanes”( Berdasarkan laporan Carmelite Ignatius a Jesu (1652)). Walaupun besar kemungkinan mereka dipengaruhi oleh Yudaisme, mereka sama sekali tidak memelihara hukum Taurat, menolak hari Sabat tetapi hari Minggu sebagai hari Tuhan. Mereka percaya akan seorang Juruselamat yang mereka sebut dengan istilah Manda de Hayye tetapi mereka membedakan diri mereka dengan orang Kristen dengan menyebut Kristen dengan Kristiânâ.

Sangat jelas bahwa sekte Nasoræan ini berbeda dengan sekte Nasrani yang dideskripsikan di dalam Kisah Para Rasul, tulisan-tulisan para Bapa Gereja, dan di dalam Talmud. Sehingga bisa disimpulkan bahwa keduanya merupakan entitas yang berbeda, terpisah dan tidak memiliki sangkut-paut apapun (informasi lebih lanjut tentang sekte Nasoræan bisa dibaca di dalam Ensiklopedia Katholik).

Keterangan dari seorang penceramah Kristen yang menyamakan sekte Nasrani (Kisah Para Rasul 24:5, 14) dengan sekte Nasoræan amat disayangkan oleh penulis sebab para pembaca dan pendengarnya akan menganggap bahwa keterangan yang diberikan itu adalah benar – padahal keliru. Kekeliruan ini disebabkan oleh ketidak-mampuan untuk membedakan TIGA buah sekte berbeda yang sedang dibicarakan oleh Epiphanius dalam bukunya Panarion. Nama ketiga sekte ini memang beda-beda tipis sekali, tetapi ketiganya jelas dapat dibedakan dari cara mereka beribadah, kitab suci yang mereka pakai, dan iman mereka kepada Mesias.

Baiklah sekarang mari kita bedah buku Epiphanius tersebut. Dalam Panarion 1:18-19, Epiphanius menjelaskan tentang sekte Nasaraean sebagai berikut:

“Kaum Nasaraean – mereka adalah berkebangsaan Yahudi – berasal dari Gilead, Bashan dan Trans-Yordan…Mereka percaya bahwa Musa telah menerima hukum – bukan hukum ini, tetapi yang lain. Dan mereka adalah orang-orang Yahudi yang memelihara segala hukum Yahudi, tetapi mereka menolak korban persembahan dan makan daging. Mereka memandang makan daging atau mengadakan korban persembahan [terhadap hewan] sebagai perbuatan melanggar hukum. Mereka mengklaim bahwa kitab-kitab [Musa] ini adalah rekaan dan menolak aturan-aturan yang dibuat oleh para tua-tua. Inilah yang membedakan kaum Nasaraean dengan yang lain… Setelah sekte ini, ada satu sekte lagi sangat dekat hubungannya dengan mereka,yang disebut Ossaean. Mereka adalah orang-orang Yahudi seperti sekte sebelumnya…berasal dari Nabataea, Ituraea, Moab dan Arielis, negeri-negeri di seberang bentangan yang dalam kitab suci disebut Laut Asin.. . . Walaupun sekte ini berbeda dengan keenam sekte lainnya dari tujuh sekte yang ada, sekte ini menciptakan skisma dengan menolak kitab Musa seperti halnya kaum Nasaraean. Seorang bernama Elxai [Elkhasai?] kemudian bergabung dengan mereka, di masa pemerintahan kaisar Trajan (Trajanus), setelah kebangkitan Kristus… Ia menulis sebuah buku dari wahyu yang diperolehnya… Ia tidak setuju dengan hidup selibat (membujang/tidak menikah) dan menganjurkan perkawinan… Ia mengaku dalam nama Kristus…Ia menolak ritual korban persembahan, menolak otoritas para tua-tua dan hukum… Ia menolak kebiasaan Yahudi makan daging… Setelah dia muncullah kaum Ebion dan Nazoraean. Sedangkan yang muncul sebelum dan selama masanya adalah kaum Ossaean dan Nasaraean.” (Panarion 1:18-19)
Dari kutipan di atas kita mencatat sudah ada dua sekte yang sangat mirip namanya, Nasaraean dan Nazoraean. Epiphanius membedakan keduanya dengan menulis bahwa Nasaraean sudah ada sebelum pemunculan Elkhasai sedangkan Nazoraean sesudahnya. Apakah Nasaraean adalah sekte biblikal Nasrani? Bukan. Sebab mereka tidak menerima kitab Musa sementara kita tahu bahwa Yesus menggunakannya. Sekte Nasaraean menolak ritual korban persembahan sementara kita tahu bahwa Paulus, salah seorang tokoh sekte Nasrani, melakukannya (Kisah Para Rasul 21:26). Sekte ini bahkan sudah muncul sebelum Yesus. Apakah Nazoraean adalah sekte biblikal Nasrani? Bukan juga. Meski Epiphanius tidak menyatakan secara eksplisit, kita bisa melihat bahwa sekte Nazoraean ini mempunyai hubungan dengan ajaran Elkhasai dan Ebionisme – yang kita sama-sama ketahui juga menolak ritual korban persembahan dan makan daging. Kemungkinan besar sekte yang dimaksud disini adalah predesesor dari sekte Nasoræan yang diterangkan di atas.

Lalu apa yang ditulis oleh Epiphanius tentang sekte biblikal Nasrani? Dalam bab yang terpisah, ia menulis:
"Tetapi sekte ini…tidak menyebut diri mereka Kristen melainkan Nazoraioi… Walaupun demikian mereka benar-benar seperti orang Yahudi, Mereka tidak hanya menggunakan Perjanjian Baru tetapi juga Perjanjian Lama seperti halnya orang Yahudi… Mereka tidak mempunyai pendapat yang berbeda, namun melakukan semua hal tepat seperti apa yang diperintahkan dalam Taurat, menurut tata cara Yahudi – kecuali kepercayaan mereka terhadap Mesias…Mereka percaya baik kebangkitan orang mati maupun penciptaan ilahi atas segala sesuatu, dan menyatakan bahwa Tuhan itu esa dan bahwa Anak-Nya adalah Yesus Kristus. Mereka terdidik dengan baik dalam bahasa Ibrani. Di antara mereka, semua kitab Taurat, para nabi [Neviim] dan tulisan-tulisan [Kethubim] dibacakan dalam bahasa Ibrani, sebab mereka tentunya adalah orang Yahudi. Mereka dibedakan dengan orang Yahudi [umumnya] dan dari orang Kristen oleh sebab berikut. Mereka berseberangan dengan orang Yahudi karena kepercayaan mereka terhadap Mesias, tetapi karena mereka tetap terbelenggu oleh hukum Taurat – sunat, Sabat, dan lainnya – mereka tidak termasuk ke dalam Kristen…Mereka adalah orang Yahudi…Mereka mempunyai Injil Matius dalam bahasa Ibrani. Sebab sangat jelas mereka masih mempertahankannya, dalam alfabet Ibrani, seperti pada mulanya ditulis." (Panarion 29)

Adanya bermacam-macam variasi nama yang dijumpai kerap mudah membingungkan orang untuk mengenali sesuatu. Pengenalan akan nama yang benar saja sebetulnya tidak cukup untuk mengidentifikasikan sesuatu. Nama mungkin saja boleh sama tetapi ciri dan karakteristiknya berbeda. Penulis mengakui banyak orang tidak siap untuk menerima kenyataan bahwa Yesus tidak datang untuk membawa agama baru yang asing dan berbeda – apalagi sampai menentang hal-hal yang dipraktekkan oleh Yesus semasa hidup-Nya. Penulis menghimbau kepada pembaca untuk lebih berhati-hati terhadap penerangan yang keliru tentang sekte Nasrani.

= = =

NASRANI VS KRISTEN DI MASA KINI
Kebanyakan orang Kristen, tanpa ragu-ragu, akan menjawab, TIDAK! Kita tidak lagi berada di bawah hukum Taurat oleh karena iman kepada Kristus. Nah, jawaban seperti ini memicu banyak pertanyaan tentang siapa Yesus dan apa yang diajarkan-Nya, serta bagaimana Ia mengamanatkan murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa.

Hukum Taurat adalah seperangkat aturan, perintah, dan ketetapan yang diajarkan TUHAN kepada umat-Nya supaya mereka hidup kudus, sebab Ia pun kudus (Imamat 19:2). Para rabbi telah menghitung ada 613 buah perintah secara keseluruhan di dalam Taurat, termasuk 10 Perintah yang tersohor itu.

Yeshua (Yesus) adalah seorang Yahudi yang taat, Ia disunat pada hari kedelapan (Lukas 2:21), memberikan korban persembahan (Lukas 2:22-24), dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang religius, yang mempunyai kebiasaan berziarah ke Yerusalem setiap tahun pada hari raya Paskah(Lukas 2:41). Yeshua hidup dalam gaya hidup yang religius, bahkan sekalipun orang-orang Farisi, sebuah kelompok Yahudi yang paling religius di masa itu, tidak dapat menemukan kesalahan pada diri-Nya. Ia dapat berkata kepada mereka, “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (Yohanes 8:46). Salah satu masalah yang dihadapi dewasa ini ialah bagaimana kita gagal memahami kitab suci karena kurangnya pengetahuan kita akan konteks yang berlaku pada masa itu. Disini pemahaman orang Yahudi terhadap kata “dosa” adalah “pelanggaran terhadap Taurat” (bd. 1 Yohanes 3:4). Jadi ketika mereka tidak dapat menunjukkan kesalahan-Nya, artinya mereka tidak menemukan satu pun perintah Taurat yang dilanggar-Nya. Yeshua adalah seorang rabbi yang berkelana dari satu tempat ke tempat lain, sambil diikuti oleh murid-murid-Nya. Istilah “Rabbi” adalah sebuah sebutan resmi bagi seorang guru atau pengajar Taurat. Yeshua tidak akan dipanggil sebagai rabbi jika apa yang Ia ajarkan bukan Taurat. Pada masa itu memang banyak sekali rabbi-rabbi yang berkelana sambil diikuti oleh murid-muridnya. Tujuan dari seorang murid adalah mempelajari segala hal yang diajarkan oleh rabbinya, mengikuti contoh-contoh dari rabbinya, dan pada gilirannya ia pun menjadi seorang rabbi (bd. 1 Korintus 11:1). Jadi ketika kita mendengar panggilan-Nya, “Ikutlah Aku”, supaya kita menjadi murid-Nya, kita hendaknya mau mengikuti apa yang sudah diajarkan dan dicontohkan oleh-Nya. Ia berkata bahwa Ia tidak datang untuk meniadakan Taurat, atau kitab para nabi, tetapi untuk menggenapinya (Matius 5:17). Pernyataan ini sering disalah-pahami bahwa artinya Yeshua telah menggantikan Taurat. Padahal tidak demikian. Yeshua mengetahui semua itu sehingga Ia memulainya dengan kata “Janganlah kamu menyangka”. Artinya jika engkau berpikiran demikian, engkau salah. Yeshua melanjutkan perkataannya dengan berkata, “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:18). Iota (huruf Yunani) = “Yot” yang adalah huruf Ibrani yang terkecil sedangkan titik (keraia = arti harafiahnya tanduk) adalah sebuah tanda baca di sudut sebuah huruf, sebagian dari huruf atau coretan (pena) yang bahkan lebih kecil dari “yot”.

Yeshua menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk mengajari murid-murid-Nya tentang pengajaran dan aplikasi Taurat yang benar, kemudian Ia mengamanatkan mereka untuk pergi dan mengajarkan demikian kepada orang lain. Dalam Matius 28:19-20 Ia berkata: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”

Ketika murid-murid-Nya mendengar amanat “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”, mereka tahu bahwa maksudnya adalah “untuk mengajar segala bangsa untuk melakukan perintah Taurat”. Inilah konteks dan cara pikir dimana mereka hidup pada masa itu.

Seperti rasul Yochanan (Yohanes) menulis dalam 1 Yohanes 2:7, “Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar.” Kesulitan yang dialami pada masa kini ialah kita telah kehilangan konteks dan cara pikir seperti mereka yang hidup di abad pertama. Ketika kita mendengar perintah Yesus, pikiran kita akan mengacu kepada suatu set perintah yang baru. Jadi ada perintah yang lama dan perintah yang baru. Lebih kacau lagi kalau kita sampai terpengaruh Marcionisme sehingga tanpa sadar kita mempunyai dua Tuhan yang berbeda, Tuhan Perjanjian Lama dan Tuhan Perjanjian Baru. Dengan begitu perintah tuhan Perjanjian Lama tidak sama dengan perintah Tuhan Perjanjian Baru. Atau bisa jadi kita mendapati Tuhan yang suka berubah pikiran. Ini adalah bukan Tuhan yang kita sembah.

Jika perintah yang harus dilakukan itu adalah Taurat, bagaimana jemaat mula-mula menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Dalam Lukas 24:53 dan Kisah Para Rasul 2:46 kita menyaksikan bagaimana mereka dengan bertekun berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Elohim. Para Bapa Gereja di abad kedua hingga kelima seringkali mencap Bait Elohim sebagai lambang kebobrokan Yudaisme yang sudah sewajarnya diratakan dengan tanah oleh bangsa Roma. Itu ada benarnya. Institusi Bait Elohim yang berada di bawah kekuasaan kaum Saduki memang sudah bobrok tetapi Alkitab berkata hal ini tidak menghalangi mereka untuk memuja Elohim di Bait-Nya itu. Dalam keterangan Bapa Gereja lainnya kita bisa membaca gaya hidup Ya’aqov (Yakobus), saudara Yeshua, yang luar biasa taatnya sehingga ia dijuluki Tzaddik atau Orang Benar. Ia dikenal mempunyai kebiasaan untuk masuk seorang diri di ruangan paling suci dalam Bait Elohim, berlutut berdoa kepada Tuhan sehingga kulit-kulit lututnya menjadi tebal (Eusebius, Historia Ecclesia II,23:4-7). Kembali dalam Kisah Para Rasul 21:20 kita membaca bahwa pada masa itu ada puluhan ribu orang Yahudi menerima Yeshua sebagai Mesias mereka. Kata puluhan ribu yang digunakan dalam teks Yunani adalah murias (No. Strong: 3461) yang mengandung pengertian “suatu jumlah yang tak terhingga”. Lalu apa yang dilakukan mereka setelah percaya? Mereka menjadi semakin rajin memelihara Taurat. Kata rajin yang dipakai disini adalah zelotes (No. Strong: 2207) yang bisa mengandung pengertian “fanatik” (i.e orang Zelot). Jadi Lukas benar-benar memberikan penekanan kuat disini ketika ia menuliskan kesaksiannya. Luar biasa! Bahkan rasul Sha’ul (Paulus) membuktikan isu bahwa dirinya mengajarkan, tidak memelihara Taurat adalah tidak benar. Ia membawa serta empat orang yang bernazar dan melakukan pentahiran diri yang diakhiri dengan memberikan korban persembahan (Kisah Para Rasul 21:21-26).

Lalu apa gunanya memelihara Taurat bagi orang percaya? Menurut Surat Roma, hal tersebut tidak menyelamatkan, jadi mengapa dilakukan? Jawabannya adalah bahwa Taurat merupakan masalah gaya hidup, bukan masalah keselamatan. Karena Taurat tidak membawa keselamatan bukan berarti kita boleh beralasan untuk tidak melakukannya.

Selama berabad-abad Taurat lebih banyak diterjemahkan sebagai hukum atau perintah. Sebenarnya terjemahan ini tidak begitu tepat. Taurat dalam bahasa Ibrani berarti pengajaran atau instruksi. Jadi seharusnya kita lebih melihat Taurat sebagai alat pendidikan Tuhan ketimbang sebuah hukum yang berbuahkan penalti atau hukuman atau kutuk bagi para pelanggarnya. Melalui Taurat Tuhan hendak mengajarkan umatNya mana yang boleh dan mana yang tidak dan mana yang benar mana yang tidak. Ibarat seorang bapa yang mengajarkan anaknya, kadang memang dengan keras misalkan menghukum dengan rotan, begitu pula dengan Bapa di surga. Ia kadang bagi kita kelihatan keras tapi tentunya semua itu demi kebaikan kita.

"Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia." (II Samuel 7:14)

= = =

Taurat diberikan kepada umat yang diselamatkan
Mengerjakan Taurat sama sekali tidak membawa kita kepada keselamatan. Mengerjakan hukum Taurat lebih dipandang sebagai kewajiban moral kita untuk menyatakan cinta kasih kita kepada Tuhan. Ingat, bukankah bangsa Israel terlebih dahulu diselamatkan Tuhan dari perbudakan di Mesir sebelum mereka diberikan Taurat? Jadi adakah mereka diselamatkan oleh Taurat? Sama sekali tidak. Namun karena mereka sudah diselamatkan dan dipilih menjadi umat Tuhan, maka mereka harus hidup kudus. Semua aturan, cara, dan pengajaran bagaimana untuk hidup kudus di hadapan Tuhan ditulis lengkap di dalam Taurat. Untuk itulah Taurat diberikan. Sama seperti bangsa Israel di masa itu, kita juga telah diselamatkan oleh Tuhan. Oleh sebab itu sebagai umat Tuhan kita harus hidup kudus di hadapanNya yakni dengan melaksanakan Taurat yang telah diberikanNya.

Kita adalah umat yang diselamatkan
Kita mengerjakan Taurat bukan untuk mencari respon Elohim. Tetapi karena Elohim telah memilih kita menjadi umatNya maka kita harus meresponiNya (disini Elohim yang memegang inisiatif). Dipilih menjadi umatNya artinya kita sudah masuk ke dalam karya penyelamatanNya.

TUHAN sendiri telah berfirman :
"Kuduslah kamu sebab Aku, TUHAN, Elohimmu kudus." (Imamat 19:2)

Ya, karena kita telah menjadi umatNya maka kita diminta untuk meresponiNya dengan hidup kudus. Selanjutnya bagaimana cara untuk hidup kudus? Semuanya itu ada dan hanya ada di dalam Taurat. Saya punya satu ilustrasi. Ada dua orang anak. Anak yang pertama memberikan bunga kepada ibunya karena hari itu adalah hari Ibu. Anak yang kedua juga memberikan bunga kepada ibunya supaya ibunya membelikannya sepeda baru. Begitu pula dalam kehidupan beragama kita. Hendaklah kita meniru sikap anak yang pertama tadi. Ia memberikan bunga kepada ibunya karena ia sayang dan menyatakan terima kasihnya kepada sang ibu. Jadi kita melakukan Taurat karena kita sayang dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah memilih kita sebagai umatNya dan dengan demikian pula masuk ke dalam karya penyelamatanNya. Karena kita umatNya maka kita harus kudus. Akan tetapi sebaliknya kita jangan meniru anak yang kedua itu. Ia memberikan hadiah kepada ibunya karena ada maunya. Kalau kita mengerjakan Taurat untuk memperoleh suatu keselamatan atau pahala, itu adalah kesalahan besar. Inilah yang dikritik oleh Yeshua terhadap kehidupan beragama masyarakat Yahudi pada masaNya. Observing Torah may not save us, but it make us worth being saved.

Teolog Kristen sering mengklaim bahwa kebiasaan untuk beribadah di hari Minggu, bukan di hari Sabat, sudah menjadi kebiasaan jemaat mula-mula. Mereka mengutip Kisah Para Rasul 20:7 yang berbunyi, “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecahmecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.” Sayangnya mereka memahami ayat ini di luar konteks yang berlaku di dalamnya. Disana dikatakan bahwa mereka berkumpul untuk memecah-mecahkan roti (yang mana merupakan adat istiadat orang Yahudi) pada hari pertama dalam minggu itu. Ini artinya mereka berkumpul di hari Minggu. Beberapa terjemahan Perjanjian Baru bahkan secara langsung menerjemahkannya sebagai hari Minggu. Benarkah demikian? Tunggu dulu. Dalam konteks Yahudi, sebuah hari dimulai dan berakhir pada saat matahari terbenam. Dalam budaya orang Yahudi kita juga menjumpai adanya sebuah kebiasaan yang dinamakan Havdallah yakni perpanjangan dari kebaktian Sabat. Jadi ketika hari Sabat selesai, yakni dengan ditandai oleh matahari terbenam, mereka memperpanjang pertemuan mereka untuk mendiskusikan apa-apa saja hikmah yang telah mereka petik dalam hari Sabat yang baru saja usai. Dan hal ini terjadi pada hari pertama dalam minggu itu – menurut konteks Yahudi, sebab hari baru telah dimulai seiring dengan tenggelamnya matahari. Hal ini menjadi semakin jelas dalam perkataan “pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam”, artinya saking begitu bersemangatnya mereka dalam mempelajari firman Tuhan, mereka melakukannya sampai tengah malam. Juga dalam ayat selanjutnya (ayat 8) dikatakan “banyak lampu” yang menandakan bahwa pertemuan mereka itu terjadi pada malam hari, jadi bukan merupakan kebaktian Minggu pagi seperti yang diklaim oleh teolog Kristen.

Tidak dapat disangsikan lagi bahwa jemaat mula-mula memelihara Taurat. Permasalahan muncul ketika begitu banyak orang bukan Yahudi turut menjadi percaya. Mereka berlatar-belakang dari suatu budaya asing yang tidak menyukai agama dan adat-istiadat orang Yahudi. Mereka adalah para penyembah berhala. Mereka tidak mengenal Taurat. Mereka buta sama sekali. Lalu apa yang harus dilakukan? Beberapa orang pengikut Yeshua ada yang masih kental dengan tradisi Farisi mereka. Mereka kurang berkenan dengan cara “pindah agama” instan seperti ini. Bagi mereka adalah hal yang mengerikan jika Taurat dilakukan dengan tidak benar sebab dosa satu orang berakibat kepada seluruh umat. Mereka mengajarkan bahwa “jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.” Sha’ul dan Bar-Nabbas pergi ke Yerusalem untuk mendiskusi hal ini dengan para tua-tua. Dan mereka sampai pada ketetapan demikian untuk orang bukan Yahudi. Mereka harus menjauhkan diri dari empat hal (Kisah Para Rasul 15:20):
1. Makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala
2. Percabulan
3. Daging binatang yang mati dicekik
4. Darah.

Apa yang tidak diketahui oleh orang Kristen masa kini adalah bahwa ketetapan mereka pada dasarnya sesuai dengan konteks yang berlaku dalam Yudaisme yaitu bangsa-bangsa yang belum mengenal Taurat diwajibkan untuk memelihara tujuh perintah untuk Bani Nuh. Keempat perintah di atas adalah bagian daripada ketujuh perintah tersebut, yang pada hakekatnya merupakan subset dari keseluruhan Taurat. Namun demikian, ceritanya belum berakhir disini, sebab ayat berikutnya berkata:

כי יש למשה מאז ועד־היום קראי שמו בכל־עיר ועיר והוא נקרא בבתי־הכנסת בכל־שבת ושבת׃
(מעשי השליחים פרק טו:כא)

“Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat (Greek: sunagoge).”
(Kisah Para Rasul 15:21)

Dengan kata lain, empat perintah tersebut adalah untuk para pemula. Mereka diharapkan untuk bertumbuh dalam iman mereka terhadap Yeshua di dalam sinagoga. Dan satu-satunya tempat dimana mereka belajar Taurat firman TUHAN di zaman itu adalah di sinagoga. Jangan bayangkan seperti sekarang anda bisa membeli Alkitab di toko buku dan pergi belajar di mana saja. Sekali lagi disini diperlukan pemahaman akan konteks yang sesungguhnya terjadi di masa itu. Jika ada yang masih berpikir bahwa Kisah Para Rasul 15 ini membicarakan tentang pencabutan hukum Taurat, ia bisa menengok awal paragraf dari Kisah Para Rasul 16. Seorang percaya bernama Timotius lahir dari seorang ibu Yahudi dan ayah Yunani. Lihat apa yang dilakukan Paulus terhadapnya? Ia menyunat Timotius menurut hukum Taurat. Ini menunjukkan bahwa baik Paulus maupun para penatua yang hadir di dalam sidang itu tidak membicarakan tentang pencabutan hukum Taurat. Saat kita membayangkan tentang kewajiban kita terhadap perintah Taurat, kita tidak boleh memandangnya dari sudut pandang kewajiban semata, tetapi lebih dari itu untuk menemukan apa yang TUHAN kehendaki terhadap diri kita melalui perintah-perintah tersebut. Hukum Taurat bukanlah sebuah beban melainkan kegembiraan bagi setiap orang yang mendapati Taurat tertulis di dalam hatinya (Yeremia 31:33). Mari kita lihat Daud sebagai teladan kita ketika ia berkata: “Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.” (Mazmur 119:35). Daud yang sama pula yang menyatakan nubuat tentang imamat Mesias “TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.” (Mazmur 110:4). Daud mempunyai karunia bernubuat seperti demikian sebab ia dipenuhi oleh Roh Kudus. (Mazmur 51:11).

= = =

Pandangan Yesus terhadap Taurat
Selama berabad-abad umat Kristen memahami bahwa kedatangan Yesus membawa mereka ke dalam suatu perjanjian yang baru dimana mereka tidak lagi dibenarkan karena melakukan hukum Taurat melainkan karena iman semata (Roma 3:28). Padahal kalau saja mereka mau lebih mendengar ucapan dari mulut Yesus sendiri ketimbang buah pikir atau buah tulisan manusia, mereka akan tahu bahwa ajaran Yesus sama sekali bukan ajaran pengganti Taurat melainkan justru untuk membantu kita, mengarahkan kita ke dalam pemahaman yang
lebih baik tentang Taurat.

אל תחשבו כי באתי להפר התורה או הנביאים לא להפר באתי כי אם־למלאת׃
(הבשורה הקדושה על־פי מתי פרק ה:יז)

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya."
(Matius 5:17)

Yesus memulai perkataanNya mengenai hukum Taurat dengan kata-kata "janganlah kamu menyangka". Yesus tahu sejak mula bahwa akan ada banyak pengikutNya yang bakal menyalahpahami ajaran-ajaranNya. Oleh sebab itu Ia memakai kata "janganlah kamu menyangka". Ia menegaskan bahwa kedatanganNya adalah untuk menggenapi Taurat. "Menggenapi" dalam perkataan Yesus tersebut artinya hukum Taurat tetap terus diberlakukan dengan berdasarkan
pemanduan dari pengajaran Yesus.

כי הן אמן אנכי מגיד לכם עד אשר השמים והארץ יעברון לא תעבר יוד אחת מן־התורה אף לא קוץ אחד עד כי־כלם יקומו׃
(הבשורה הקדושה על־פי מתי פרק ה:יח)

"Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi."
(Matius 5:18)

Kemudian Yesus melanjutkan penegasanNya bahwa seluruh hukum Taurat sampai bagian yang terkecil sekalipun akan terus diberlakukan. Sampai kapan? Sampai langit dan bumi lenyap. Sampai Hari Tuhan yang luar biasa itu datang. Kita menantikan Hari Tuhan itu. Datanglah Tuhan Yesus! Namun dalam masa penantian ini, kita harus tetap melaksanakan hukum Taurat. Demikian supaya genap apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri. Akan tetapi apa yang kita saksikan saat ini? Hukum Taurat tidak diberlakukan lagi dalam jemaat Kristus. Apakah ini kiranya yang dimaksud Yesus lewat ucapanNya di atas? Big NO!

Banyak orang Kristen mengatakan, siapa bilang kami meniadakan hukum Taurat? Kami tetap melakukannya kok. Kami menghormati ayah dan ibu kami, kami tidak mencuri, kami tidak membunuh, bahkan kami saling mengasihi sesama kami manusia. Itu benar. Anda menghormati orang tua, anda tidak mencuri, membunuh, dan anda mengasihi sesama manusia. Tetapi dimana perayaan hari Sabatnya? Dimana pengucapan Shema yang harus dilakukan dua kali sehari? Dimana jubah berjumbai yang Tuhan perintahkan supaya kita kenakan untuk mengingat segala perintahNya? Dimana hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Pendamaian, hari raya Pondok Daun? Padahal Yesus berkata satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat. Itu artinya tidak ada perintah yang dikecualikan untuk tidak dilakukan. "Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan." Bukankah demikan kata Yesus dalam Matius 23:23?

לכן כל־המפיר אחת ממצות קטנות אלה והורה כזאת לאנשים נקלה יקרא במלכות השמים והעשה אתן ומלמד לעשותן נכבד יקרא במלכות השמים׃
(הבשורה הקדושה על־פי מתי פרק ה:יט)

"Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang paling tinggi di dalam Kerajaan Sorga."
(Matius 5:19)

Yesus selanjutnya menawarkan dua pilihan : meniadakan Taurat dan mengajarkannya demikian kepada orang lain atau melakukan Taurat dan mengajarkannya demikian kepada orang lain. Tempat yang akan disediakan untuk kita nanti tergantung oleh pilihan yang kita ambil. Sekarang marilah anda mau jujur kepada diri anda sendiri, apakah selama ini sudah melakukan dan mengajarkan segala perintah hukum Taurat? Hmm..sepertinya tidak. Bahkan sebaliknya! Anda bukan saja meniadakan banyak sekali perintah-perintah hukum Taurat tetapi juga mengajarkannya demikian kepada orang lain, kepada anak-anak anda, kepada sahabat-sahabat anda, kepada anggota-anggota pelayanan anda. Bukankah ini berarti anda lebih memilih untuk menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga?

ואני אמר לכם אם לא־תגדל צדקתכם מצדקת הסופרים והפרושים לא תבאו למלכות השמים׃
(הבשורה הקדושה על־פי מתי פרק ה:כ)

"Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."
(Matius 5:20)

Ini adalah sebuah pernyataan yang tegas. Do it or perish! Lakukan dengan lebih benar atau anda tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Apa yang dimaksud oleh Yesus dengan hidup keagamaan yang lebih benar? Apakah dengan demikian berarti hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sebenarnya sudah benar? Justru tidak. Yesus mengecam mereka dengan keras seperti yang bisa kita baca dalam Matius 23:1-36. Yesus mengecam kemunafikan mereka dan mengingatkan kita supaya tidak meniru perbuatan mereka. Oleh sebab itu kalau hidup keagamaan kita masih juga tidak lebih benar dari mereka, apa yang membuat kita layak untuk masuk dalam KerajaanNya? Hal lain yang menarik di dalam Matius 23:1-36 adalah pernyataan Yesus dalam kalimat-kalimat pertamanya.

אז ידבר ישוע אל־המון העם ואל־תלמידיו לאמר׃ הסופרים והפרושים ישבים על־כסא משה׃ לכן כל אשר־יאמרו אליכם לשמר תשמרו ועשיתם אך כמעשיהם אל־תעשו כי הם אמרים ואינם עשים׃
(הבשורה הקדושה על־פי מתי פרק כג:א-ג)

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-muridNya, kataNya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya." (Matius 23:1-3)

Disini ucapan Yesus kadang disalah-mengertikan oleh umat Kristen sebagai perintah untuk tidak melakukan hukum Taurat lagi. Padahal bukan demikian maksud Yesus. Yesus mengakui otoritas ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terhadap pengajaran Taurat. Oleh karena itu Yesus mempersilakan kita untuk menuruti dan melakukan apa yang diajarkan oleh mereka. Namun Yesus memberikan catatan agar kita jangan sampai berlaku munafik seperti mereka.

כן נראים גם־אתם מחוץ כצדיקים לעיני אנשים ומבפנים הנכם מלאים חנף ואון׃
(הבשורה הקדושה על־פי מתי פרק כג:כח)

"Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan."
(Matius 23:28)

= = =

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar